Akhirnya kami sampai ke puncak sindoro, meskipun tidak berbarengan. Aku, Yola, dan Yunda lah yang sampai duluan di puncak, langsung saja kami mengeluarkan hp masing masing untuk berfoto-foto mengabadikan moment diatas sini, lagi-lagi banyak yang meminta fotoin, memangnya setelan saya ini seperti tukang foto keliling ya?? sambil berfoto kami menunggu yang lain, dan akhirnya terlihat lah batang hidung dari rombongan kami satu persatu. Mas Sigit, Jefri, disusul wanita-wanita tangguh Ucy dan Demi, kala itu hanya ada 7 orang yang sampai dipuncak sindoro dari 12 rombongan kami, entah sisanya pada kemana mungkin masih berjuang untuk mencapai puncaknya.
Setelah mengambil beberapa enggel foto sebagai koleksi di galeri kami sudahkan, sebenarnya belum puas karena memori handphone belum over dosis, tapi apalah daya semburan sulfur dari kawah sindoro yang membuat kami tak tahan lagi akan wanginya yang menyesakkan tenggorokan dan pedihnya dibagian mata seperti melihat mantan jalan bersama pasangannya.. hihihi....
bye.... bye... puncak. Terdengar dibelakang adanya berucap ahh gak akan gue naik sini lagi, makhluk apa itu tadi yang berbicara, baru segini bagaimana dengan ujian hidup. hehehe...
saat ku melihat kebawah rasanya bergejolak dipikiran, jauh lagi dehh turunnya mau gak mau harus turun, memangnya mau menetap diatas, mau jadi kuncen??
Turunlah kami, buat ku lebih berat turun karena beban menopang badan lebih ekstra, belum setengah perjalanan dengkul bagian atas ku terasa sakit dan juga belum lagi kabut tebal yang mengiringi perjalanan turun kami. Kabut seperti inilah yang membuat banyak para pendaki tersesat.
Dengan perlahan kami turun tanpa sengaja bertemulah kami dengan dua makhluk dari rombongan kami yang tertinggal tadi yaitu Bunga dan Hafis mereka berdua sangat mesra jalan berdampingan uunnchh so sweettt...!! padahal hari sudah semakin siang dan tentunya asap belerang semakin pekat tapi mereka berdua tetap ingin melanjutkan sampai puncak, entah gerangan apa yang mereka rencanakan diatas sana, mungkin mas Hafis ingin mengungkapkan rasa kepada Bunga atau mau melamar bunga diatas puncak sindoro... khayalanku terlalu jauh.. hehehe....
dan yang dua lagi yaitu Retno dan Meira saya suruh turun mengikuti kami karena melihat kondisinya yang tidak memungkinkan. Lantas turun lah kami bersembilan, oia teman saya satu lagi yaitu Irvan ia menunggu di pos 4 katanya mau tidur.
Diperjalanan turun perut keroncongan persediaan air habis, kita memang membawa persediaan secukupnya, rang kata mas Sigit kepuncak hanya 40 menit, tapi nyatanya berjam jam. Sebelum naik saja kami sudah diberi harapan yang membulshitkan.
Pahaku semakin nyeri alhasil langkah ku semakin melambat, tertinggal lah aku dengan rombongan. Setelah melewati pos 4 aku melihat rombongan ku sedang beristirahat duduk diantara trek PHP, niat isengku terpintas belum juga mau iseng aku sudah terpeleset jatuh dihadapan mereka. Sakit sih tidak, tapi malunya itu lho jatuh tepat didepan para bidadari yang sedang ngetem.. hihihi... angkot kali ahh.
Di trek turun kami beringas bagai segerombolan kera yang lapar akan buruannya, alhasil kami seperti petugas dishub, kalau petugas dishub kan memberhentikan kendaraan yang membawa muatan lebih, kalau kami memberhentikan para pendaki lain yang membawa sisa makanan mereka, ngenes amat ya hanya sisaan,, hehe...
sembari kami istirahat duduk, mata kami dengan tajamnya memperhatikan tetengan para pendaki yang turun maupun naik, ada salah satu pendaki yang kami berhentikan langkahnya untuk sekedar meminta makanan dan minum, dikasihlah kami satu bungkus indomie dan itu pun juga tidak ada bumbunya tak masalah ambil saja namanya juga lapar kotoran sapi di tanah saja mungkin dianggap bronis.. hahaha.... rasa malu kala itu sudah tak ada.
walau sudah menyantap satu bungkus indomie tetap saja masih lapar, bagaimana tidak satu bungkus indomie di bagi-bagi ke beberapa orang. Apalagi para wanita-wanita ini makannya buanyakk, hehehe... Mulailah lagi kita untuk membegal.
Banyak pendaki yang lewat, teman saya Ucy sudah berteriak-teriak akan tetapi tidak ada yang peka. Tibalah ada seorang mas-mas lewat membawa tentengan ditangannya yang kulihat itu adalah bungkus roti dengan refleksnya ku teriaki saja roti... roti...!!! suara ku seperti tukang roti keliling yang ada di perumahan.. hihi... Alhamdulillah si mas ini peka akan teriakan ku, dikasihlah rotinya pada kami, tak berselang lama dari arah belakangku ada sesosok laki-laki memegang bunkusan berwarna hijau yang bertuliskan Rebo, ya... itu adalah biji bunga matahari makanannya hamtaro (kuwaci). Bawaan lelaki itu tak luput juga dari pembegalan kami, lumayan buat cemilan walau tidak mengenyangkan.
Sudah puas rasanya membegal pendaki lain, bukan puas karena makanannya... ya menurut ku makanannya standar, coba aja yang dibawa bakso atau mie ayam mungkin kami akan puas dengan makanannya. hihihi... (gak tau diri masih untung ada yang mau ngasih).
Akhirnya kami lanjutkan perjalanan turun untuk sampai di pos 3, agak sedikit mager karena pahaku terasa sakit kembali, ku berjalan turun sangat pelan sampai sampai tersusul oleh pasangan dadakan Bunga dan Hafis. Tersisalah dibelakang aku, yola, dan hafis. ku melihat yola turun dengan cara merosot seperti anak play group yang main perosotan, mungkin ini ya yang dikatakan masa kecil kurang bahagia, hahahaa.... bukan deng itu karena kakinya tak kuat untuk menopang makanya ia merosot untuk meminimalisir tumpuan di kaki. Akhirnya sampailah di sunrise camp ku lihat bunga dan meira sedang terduduk ternyata meira habis tergelincir dan kakinya keseleo, kubopong dan kutuntunlah sampai tenda.
Sesampainya ditenda mulailah mempersiapkan hidangan yang ditunggu-tunggu, ku lihat didalam tenda sudah ada mas sigit yang alergi katanya makan udang atau apa gitu, badannya memerah seperti udang rebus,, hemmm... biasa makan nasi sama garam sok sok'an makan sea food.. hehehe....
Wanita-wanita perkasa yang tadi sampai puncak ternyata sudah terlelap tidur, enak sekali...
Selesai makan waktunya packing, entah jalan yang ku injak itu licin atau memang aku nya yang pecicilan tak bisa diam, tak ada angin tak ada badai tiba-tiba ku jatuh terpeleset disamping tenda kali ini bukan malu tapi sakit, tangan ku lecet seperti TKI yang di silet-silet majikannya.
Setelah packing semua selesai kita bergegas menuju basecamp, hari sudah mulai gelap naik gelap turun pun juga gelap, saya juga gelap sih, hehehe... Turunlah kami dari persinggahan camp, kaki yang sudah mulai kaku, rasanya mur baut saya sudah pada kendor. Diperjalanan beberapa kali ku membetulkan bawaan sampah yang terikat di daypack ku (daypack dengan sampah lebih besar bungkusan sampah). Seperti waktu naik lagi-lagi ku dibelakang, rada hawa yang tidak enak seperti ada yang mengikuti ku dari belakang tapi ku tengok ke belakang tidak ada siapa-siapa kosong gelap, bulu kuduk ku mulai berdiri ku nyalakan saja lagu sholawatan di handphone ku untuk menenangkan kemerindingan tubuh ini.
Jauhnya pos 3 ke pos 2, sampailah kami di pos 2 ku melihat ada batang pohon bergeletak tanpa basa-basi ku rebahkan tubuhku beralaskan tanah lembab. Kami beristirahat sejenak, ketika ku bangunkan tubuh ini ku melihat ada sesuatu di seberang tepatnya samping shelter pos 2 seperti cahaya mata yang meyala, ku kira itu hewan semacam babi hutan atau sejenisnya, ku arahkan senter ku kearah cahaya itu dan ternyata jlebb ku lihat sosok dengan muka merah bertaring dan tangan layaknya seperti orang tapi dengan kuku yang sangat panjang, seketika langsung saja ku bilang hayu caw ke rombongan ku karena ku tak mau berlama-lama di situ, dalam pikiranku mungkin itu hanya halusinasi ku. Saat dari pos 2 itu aku tak berani di belakang akhirnya ku maju kebarisan tengah dan hafis lah yang dibelakang menggantikan posisiku, ingin rasanya cepat-cepat sampai ke pangkalan ojek, sekitar satu jam kurang dari pos 2 akhirnya saya mendengar suara geberan sepeda motor,, yes... yes.... dalam hati sudah dekat.
Setelah sampai langsunglah para ojek menghampiri. Turun menggunakan ojek tak se ekstrem waktu naik, mungkin kali ini abangnya berbeda jalannya agak pelan. Dan alhamdulillah selamat sampai basecame. Sampai di basecame ku langsung bencengkrama dengan pendaki lain, dan ternyata pendaki dari ciputat merasakan juga apa yang kurasakan saat di pos 2, wallahu'alam...
EPILOG :
Pendakian gunung sindoro kali ini menurut saya cukup menantang, treknya yang merupakan gabungan antara trek tanah dan bebatuan, namun pemandangan selama perjalanan menuju puncak menurut saya sangat indah terutama dengan latar gunung sumbingnya. Katanya tujuan mendaki gunung itu pulang kembali dengan selamat, dan puncak adalah bonusnya tapi tidak kali ini, saya mendapati kata baru "Puncak itu harga diri" perkataan yang konyol sih sebenernya.
Dan yang lebih penting adalah menikmati perjalanan itu sendiri. Terimakasih teman-teman sindoro, senang bisa mengenal kalian, walau pendakian sindoro kita telah terlaksana, tapi siraturahmi kita harus tetap berjalan sampai kapan pun. Lain waktu kita bisa naik bareng lagi..
Cerita perjalan gunung sindoro part2
ekolyansaputro.blogspot.com
Di trek turun kami beringas bagai segerombolan kera yang lapar akan buruannya, alhasil kami seperti petugas dishub, kalau petugas dishub kan memberhentikan kendaraan yang membawa muatan lebih, kalau kami memberhentikan para pendaki lain yang membawa sisa makanan mereka, ngenes amat ya hanya sisaan,, hehe...
sembari kami istirahat duduk, mata kami dengan tajamnya memperhatikan tetengan para pendaki yang turun maupun naik, ada salah satu pendaki yang kami berhentikan langkahnya untuk sekedar meminta makanan dan minum, dikasihlah kami satu bungkus indomie dan itu pun juga tidak ada bumbunya tak masalah ambil saja namanya juga lapar kotoran sapi di tanah saja mungkin dianggap bronis.. hahaha.... rasa malu kala itu sudah tak ada.
walau sudah menyantap satu bungkus indomie tetap saja masih lapar, bagaimana tidak satu bungkus indomie di bagi-bagi ke beberapa orang. Apalagi para wanita-wanita ini makannya buanyakk, hehehe... Mulailah lagi kita untuk membegal.
Banyak pendaki yang lewat, teman saya Ucy sudah berteriak-teriak akan tetapi tidak ada yang peka. Tibalah ada seorang mas-mas lewat membawa tentengan ditangannya yang kulihat itu adalah bungkus roti dengan refleksnya ku teriaki saja roti... roti...!!! suara ku seperti tukang roti keliling yang ada di perumahan.. hihi... Alhamdulillah si mas ini peka akan teriakan ku, dikasihlah rotinya pada kami, tak berselang lama dari arah belakangku ada sesosok laki-laki memegang bunkusan berwarna hijau yang bertuliskan Rebo, ya... itu adalah biji bunga matahari makanannya hamtaro (kuwaci). Bawaan lelaki itu tak luput juga dari pembegalan kami, lumayan buat cemilan walau tidak mengenyangkan.
Sudah puas rasanya membegal pendaki lain, bukan puas karena makanannya... ya menurut ku makanannya standar, coba aja yang dibawa bakso atau mie ayam mungkin kami akan puas dengan makanannya. hihihi... (gak tau diri masih untung ada yang mau ngasih).
Akhirnya kami lanjutkan perjalanan turun untuk sampai di pos 3, agak sedikit mager karena pahaku terasa sakit kembali, ku berjalan turun sangat pelan sampai sampai tersusul oleh pasangan dadakan Bunga dan Hafis. Tersisalah dibelakang aku, yola, dan hafis. ku melihat yola turun dengan cara merosot seperti anak play group yang main perosotan, mungkin ini ya yang dikatakan masa kecil kurang bahagia, hahahaa.... bukan deng itu karena kakinya tak kuat untuk menopang makanya ia merosot untuk meminimalisir tumpuan di kaki. Akhirnya sampailah di sunrise camp ku lihat bunga dan meira sedang terduduk ternyata meira habis tergelincir dan kakinya keseleo, kubopong dan kutuntunlah sampai tenda.
Sesampainya ditenda mulailah mempersiapkan hidangan yang ditunggu-tunggu, ku lihat didalam tenda sudah ada mas sigit yang alergi katanya makan udang atau apa gitu, badannya memerah seperti udang rebus,, hemmm... biasa makan nasi sama garam sok sok'an makan sea food.. hehehe....
Wanita-wanita perkasa yang tadi sampai puncak ternyata sudah terlelap tidur, enak sekali...
Selesai makan waktunya packing, entah jalan yang ku injak itu licin atau memang aku nya yang pecicilan tak bisa diam, tak ada angin tak ada badai tiba-tiba ku jatuh terpeleset disamping tenda kali ini bukan malu tapi sakit, tangan ku lecet seperti TKI yang di silet-silet majikannya.
Setelah packing semua selesai kita bergegas menuju basecamp, hari sudah mulai gelap naik gelap turun pun juga gelap, saya juga gelap sih, hehehe... Turunlah kami dari persinggahan camp, kaki yang sudah mulai kaku, rasanya mur baut saya sudah pada kendor. Diperjalanan beberapa kali ku membetulkan bawaan sampah yang terikat di daypack ku (daypack dengan sampah lebih besar bungkusan sampah). Seperti waktu naik lagi-lagi ku dibelakang, rada hawa yang tidak enak seperti ada yang mengikuti ku dari belakang tapi ku tengok ke belakang tidak ada siapa-siapa kosong gelap, bulu kuduk ku mulai berdiri ku nyalakan saja lagu sholawatan di handphone ku untuk menenangkan kemerindingan tubuh ini.
Jauhnya pos 3 ke pos 2, sampailah kami di pos 2 ku melihat ada batang pohon bergeletak tanpa basa-basi ku rebahkan tubuhku beralaskan tanah lembab. Kami beristirahat sejenak, ketika ku bangunkan tubuh ini ku melihat ada sesuatu di seberang tepatnya samping shelter pos 2 seperti cahaya mata yang meyala, ku kira itu hewan semacam babi hutan atau sejenisnya, ku arahkan senter ku kearah cahaya itu dan ternyata jlebb ku lihat sosok dengan muka merah bertaring dan tangan layaknya seperti orang tapi dengan kuku yang sangat panjang, seketika langsung saja ku bilang hayu caw ke rombongan ku karena ku tak mau berlama-lama di situ, dalam pikiranku mungkin itu hanya halusinasi ku. Saat dari pos 2 itu aku tak berani di belakang akhirnya ku maju kebarisan tengah dan hafis lah yang dibelakang menggantikan posisiku, ingin rasanya cepat-cepat sampai ke pangkalan ojek, sekitar satu jam kurang dari pos 2 akhirnya saya mendengar suara geberan sepeda motor,, yes... yes.... dalam hati sudah dekat.
Setelah sampai langsunglah para ojek menghampiri. Turun menggunakan ojek tak se ekstrem waktu naik, mungkin kali ini abangnya berbeda jalannya agak pelan. Dan alhamdulillah selamat sampai basecame. Sampai di basecame ku langsung bencengkrama dengan pendaki lain, dan ternyata pendaki dari ciputat merasakan juga apa yang kurasakan saat di pos 2, wallahu'alam...
EPILOG :
Pendakian gunung sindoro kali ini menurut saya cukup menantang, treknya yang merupakan gabungan antara trek tanah dan bebatuan, namun pemandangan selama perjalanan menuju puncak menurut saya sangat indah terutama dengan latar gunung sumbingnya. Katanya tujuan mendaki gunung itu pulang kembali dengan selamat, dan puncak adalah bonusnya tapi tidak kali ini, saya mendapati kata baru "Puncak itu harga diri" perkataan yang konyol sih sebenernya.
Dan yang lebih penting adalah menikmati perjalanan itu sendiri. Terimakasih teman-teman sindoro, senang bisa mengenal kalian, walau pendakian sindoro kita telah terlaksana, tapi siraturahmi kita harus tetap berjalan sampai kapan pun. Lain waktu kita bisa naik bareng lagi..
Cerita perjalan gunung sindoro part2
ekolyansaputro.blogspot.com








