Kamis, 05 April 2018

Cerita Perjalanan Gunung Sindoro part 2

Ini adalah terusan cerita ku di sindoro..

     Akhirnya kami sampai ke puncak sindoro, meskipun tidak berbarengan. Aku, Yola, dan Yunda lah yang sampai duluan di puncak, langsung saja kami mengeluarkan hp masing masing untuk berfoto-foto mengabadikan moment diatas sini, lagi-lagi banyak yang meminta fotoin, memangnya setelan saya ini seperti tukang foto keliling ya??  sambil berfoto kami menunggu yang lain, dan akhirnya terlihat lah batang hidung dari rombongan kami satu persatu. Mas Sigit, Jefri, disusul wanita-wanita tangguh Ucy dan Demi, kala itu hanya ada 7 orang yang sampai dipuncak sindoro dari 12 rombongan kami, entah sisanya pada kemana mungkin masih berjuang untuk mencapai puncaknya.


     Setelah mengambil beberapa enggel foto sebagai koleksi di galeri kami sudahkan, sebenarnya belum puas karena memori handphone belum over dosis, tapi apalah daya semburan sulfur dari kawah sindoro yang membuat kami tak tahan lagi akan wanginya yang menyesakkan tenggorokan dan pedihnya dibagian mata seperti melihat mantan jalan bersama pasangannya.. hihihi.... 
bye.... bye... puncak. Terdengar dibelakang adanya berucap ahh gak akan gue naik sini lagi, makhluk apa itu tadi yang berbicara, baru segini bagaimana dengan ujian hidup. hehehe...
saat ku melihat kebawah rasanya bergejolak dipikiran, jauh lagi dehh turunnya mau gak mau harus turun, memangnya mau menetap diatas, mau jadi kuncen?? 

     Turunlah kami, buat ku lebih berat turun karena beban menopang badan lebih ekstra, belum setengah perjalanan dengkul bagian atas ku terasa sakit dan juga belum lagi kabut tebal yang mengiringi perjalanan turun kami. Kabut seperti inilah yang membuat banyak para pendaki tersesat.
     Dengan perlahan kami turun tanpa sengaja bertemulah kami dengan dua makhluk dari rombongan kami yang tertinggal tadi yaitu Bunga dan Hafis mereka berdua sangat mesra jalan berdampingan uunnchh so sweettt...!! padahal hari sudah semakin siang dan tentunya asap belerang semakin pekat tapi mereka berdua tetap ingin melanjutkan sampai puncak, entah gerangan apa yang mereka rencanakan diatas sana, mungkin mas Hafis ingin mengungkapkan rasa kepada Bunga atau mau melamar bunga diatas puncak sindoro... khayalanku terlalu jauh.. hehehe.... 
dan yang dua lagi yaitu Retno dan Meira saya suruh turun mengikuti kami karena melihat kondisinya yang tidak memungkinkan. Lantas turun lah kami bersembilan, oia teman saya satu lagi yaitu Irvan ia menunggu di pos 4 katanya mau tidur.

     Diperjalanan turun perut keroncongan persediaan air habis, kita memang membawa persediaan secukupnya, rang kata mas Sigit kepuncak hanya 40 menit, tapi nyatanya berjam jam. Sebelum naik saja kami sudah diberi harapan yang membulshitkan. 
Pahaku semakin nyeri alhasil langkah ku semakin melambat, tertinggal lah aku dengan rombongan. Setelah melewati pos 4 aku melihat rombongan ku sedang beristirahat duduk diantara trek PHP, niat isengku terpintas belum juga mau iseng aku sudah terpeleset jatuh dihadapan mereka. Sakit sih tidak, tapi malunya itu lho jatuh tepat didepan para bidadari yang sedang ngetem.. hihihi... angkot kali ahh.
     Di trek turun kami beringas bagai segerombolan kera yang lapar akan buruannya, alhasil kami seperti petugas dishub, kalau petugas dishub kan memberhentikan kendaraan yang membawa muatan lebih, kalau kami memberhentikan para pendaki lain yang membawa sisa makanan mereka, ngenes amat ya hanya sisaan,, hehe...
sembari kami istirahat duduk, mata kami dengan tajamnya memperhatikan tetengan para pendaki yang turun maupun naik, ada salah satu pendaki yang kami berhentikan langkahnya untuk sekedar meminta makanan dan minum, dikasihlah kami satu bungkus indomie dan itu pun juga tidak ada bumbunya tak masalah ambil saja namanya juga lapar kotoran sapi di tanah saja mungkin dianggap bronis.. hahaha.... rasa malu kala itu sudah tak ada.
walau sudah menyantap satu bungkus indomie tetap saja masih lapar, bagaimana tidak satu bungkus indomie di bagi-bagi ke beberapa orang. Apalagi para wanita-wanita ini makannya buanyakk, hehehe... Mulailah lagi kita untuk membegal.

     Banyak pendaki yang lewat, teman saya Ucy sudah berteriak-teriak akan tetapi tidak ada yang peka. Tibalah ada seorang mas-mas lewat membawa tentengan ditangannya yang kulihat itu adalah bungkus roti dengan refleksnya ku teriaki saja roti... roti...!!! suara ku seperti tukang roti keliling yang ada di perumahan.. hihi...  Alhamdulillah si mas ini peka akan teriakan ku, dikasihlah rotinya pada kami, tak berselang lama dari arah belakangku ada sesosok laki-laki memegang bunkusan berwarna hijau yang bertuliskan Rebo, ya... itu adalah biji bunga matahari makanannya hamtaro (kuwaci). Bawaan lelaki itu tak luput juga dari pembegalan kami, lumayan buat cemilan walau tidak mengenyangkan.
     Sudah puas rasanya membegal pendaki lain, bukan puas karena makanannya... ya menurut ku makanannya standar, coba aja yang dibawa bakso atau mie ayam mungkin kami akan puas dengan makanannya. hihihi... (gak tau diri masih untung ada yang mau ngasih).
Akhirnya kami lanjutkan perjalanan turun untuk sampai di pos 3, agak sedikit mager karena pahaku terasa sakit kembali, ku berjalan turun sangat pelan sampai sampai tersusul oleh pasangan dadakan Bunga dan Hafis. Tersisalah dibelakang aku, yola, dan hafis. ku melihat yola turun dengan cara merosot seperti anak play group yang main perosotan, mungkin ini ya yang dikatakan masa kecil kurang bahagia, hahahaa.... bukan deng itu karena kakinya tak kuat untuk menopang makanya ia merosot untuk meminimalisir tumpuan di kaki. Akhirnya sampailah di sunrise camp ku lihat bunga dan meira sedang terduduk ternyata meira habis tergelincir dan kakinya keseleo, kubopong dan kutuntunlah sampai tenda.

     Sesampainya ditenda mulailah mempersiapkan hidangan yang ditunggu-tunggu, ku lihat didalam tenda sudah ada mas sigit yang alergi katanya makan udang atau apa gitu, badannya memerah seperti udang rebus,, hemmm... biasa makan nasi sama garam sok sok'an makan sea food.. hehehe....
Wanita-wanita perkasa yang tadi sampai puncak ternyata sudah terlelap tidur, enak sekali...
     Selesai makan waktunya packing, entah jalan yang ku injak itu licin atau memang aku nya yang pecicilan tak bisa diam, tak ada angin tak ada badai tiba-tiba ku jatuh terpeleset disamping tenda kali ini bukan malu tapi sakit, tangan ku lecet seperti TKI yang di silet-silet majikannya.

Setelah packing semua selesai kita bergegas menuju basecamp, hari sudah mulai gelap naik gelap turun pun juga gelap, saya juga gelap sih, hehehe... Turunlah kami dari persinggahan camp, kaki yang sudah mulai kaku, rasanya mur baut saya sudah pada kendor. Diperjalanan beberapa kali ku membetulkan bawaan sampah yang terikat di daypack ku (daypack dengan sampah lebih besar bungkusan sampah). Seperti waktu naik lagi-lagi ku dibelakang, rada hawa yang tidak enak seperti ada yang mengikuti ku dari belakang tapi ku tengok ke belakang tidak ada siapa-siapa kosong gelap, bulu kuduk ku mulai berdiri ku nyalakan saja lagu sholawatan di handphone ku untuk menenangkan kemerindingan tubuh ini.

     Jauhnya pos 3 ke pos 2, sampailah kami di pos 2 ku melihat ada batang pohon bergeletak tanpa basa-basi ku rebahkan tubuhku beralaskan tanah lembab. Kami beristirahat sejenak, ketika ku bangunkan tubuh ini ku melihat ada sesuatu di seberang tepatnya samping shelter pos 2 seperti cahaya mata yang meyala, ku kira itu hewan semacam babi hutan atau sejenisnya, ku arahkan senter ku kearah cahaya itu dan ternyata jlebb ku lihat sosok dengan muka merah bertaring dan tangan layaknya seperti orang tapi dengan kuku yang sangat panjang, seketika langsung saja ku bilang hayu caw ke rombongan ku karena ku tak mau berlama-lama di situ, dalam pikiranku mungkin itu hanya halusinasi ku. Saat dari pos 2 itu aku tak berani di belakang akhirnya ku maju kebarisan tengah dan hafis lah yang dibelakang menggantikan posisiku, ingin rasanya cepat-cepat sampai ke pangkalan ojek, sekitar satu jam kurang dari pos 2 akhirnya saya mendengar suara geberan sepeda motor,, yes... yes.... dalam hati sudah dekat.
     Setelah sampai langsunglah para ojek menghampiri. Turun menggunakan ojek tak se ekstrem waktu naik, mungkin kali ini abangnya berbeda jalannya agak pelan. Dan alhamdulillah selamat sampai basecame. Sampai di basecame ku langsung bencengkrama dengan pendaki lain, dan ternyata pendaki dari ciputat merasakan juga apa yang kurasakan saat di pos 2, wallahu'alam...

EPILOG :
     Pendakian gunung sindoro kali ini menurut saya cukup menantang, treknya yang merupakan gabungan antara trek tanah dan bebatuan, namun pemandangan selama perjalanan menuju puncak menurut saya sangat indah terutama dengan latar gunung sumbingnya. Katanya tujuan mendaki gunung itu pulang kembali dengan selamat, dan puncak adalah bonusnya tapi tidak kali ini, saya mendapati kata baru "Puncak itu harga diri" perkataan yang konyol sih sebenernya.
Dan yang lebih penting adalah menikmati perjalanan itu sendiri. Terimakasih teman-teman sindoro, senang bisa mengenal kalian, walau pendakian sindoro kita telah terlaksana, tapi siraturahmi kita harus tetap berjalan sampai kapan pun. Lain waktu kita bisa naik bareng lagi..


Cerita perjalan gunung sindoro part2
ekolyansaputro.blogspot.com

Rabu, 04 April 2018

Cerita perjalanan gunung sindoro

Wah rasanya sudah lama tidak nulis di blog ini, sudah beberapa dekade blog ini berhibernasi.. haha... Padahal sudah banyak gunung yang sudah didaki, kali ini aku mau nulis tentang catatan perjalanan ku mendaki gunung sindoro saat liburan kemarin.

     Sebelum ada ajakan untuk mendaki sindoro ku baru saja naik gunung papandayan.
Pagi pagi aku dikagetkan dengan bunyi handphone ku ada panggilan masuk dan ternyata itu adalah video call, wah niat banget nih yang nelpon. Mas sigit namanya pagi pagi sudah video call hanya untuk mengajakku untuk naik gunung sindoro pada tanggal 29-31 maret 2018, entah setan apa yang merasuki pikiran ku, ajakan itu langsung ku iyakan saja tanpa harus pikir panjang.

     Pada tanggal 29 maret 2018 kami kumpul dahulu ditempat mas sigit untuk mempersiapkan segala keperluan dan keberangkatan kami, kala itu aku datang paling awal kami menunggu rombongan dari bogor yang berjumlah 4 orang dan dari teman kerjanya mas sigit 5 orang, ke empat dari bogor itu adalah ucy, demi, yola, dan yunda sementara 5 orang lainnya bunga, meira, retno, jeri, irvan.
Sudah satu jam ku menunggu kehadiran mereka dan datanglah rombongan 5 orang itu tinggal menunggu yang dari bogor, sudah hampir jam 10 mereka belum datang juga, mau berangkat jam berapa pikirku belum macet diperjalanannya.
     Akhirnya yang ditunggu datang juga, tanpa lama kita langsung mempersiapkan diri. Oia keberangkatan kita kali ini menggunakan mobil pribadi atau sewaan jumlah nya 2 mobil karena kita ada 12 orang. Di mobil pertama saya dan teman kerjanya mas sigit dan dimobil kedua mas sigit dan rombongan dari bogor.
     Setelah selesai packing dan sudah siap semua, berangkatlah kami jam menunjukkan pukul 23.00 wib, kami star dari tangerang. Pikirku apa yang ku khawatirkan benar macetnya tol dalam kota akibat adanya pembangunan, entah sampai kapan pembangunan itu selesai, sudah berepisode episode belum selesai juga. Seperti sinetron saja, kalau di ibaratkan sinetron seperti sinetron tersanjung gak kelar kelar... 😅😅.

     Lama diperjalanan membuat kami lelah dan ngantuk, di tengah perjalanan arah semarang aku tertidur mungkin supirku juga ngantuk kata mobil yang belakang mobil kami oleng,,, oleng kaptenn... Masuk jalur yang tidak seharusnya. Begitu pula mobil yang dibelakang hampir kejurang, tapi alhamdulillah tidak terjadi apa apa kami masih dilindungi olehNya.
     Setelah melakukan perjalan hampir 20 jam lamanya, lama sekali, (itu kalau ku ke jogja udah pulang pergi naik kereta). Tiba lah kami di basecame pendakian balai desa Kledung. Lekas kami istirahat sejenak dan mempersiapkan diri dan barang bawaan untuk mulai pendakian sambil menunggu hujan reda dan juga mengisi kekosongan perut.
Matahari sudah terbenam langit pun sudah terlihat gelap tapi rintihan hujanmu belum reda juga. Tepat pukul 20.30 wib hujan tampaknya sudah lelah membasahi bumi ini,, seperti ku yang lelah mengejarmu.. Hahaha.. Curcol... Mulailah kita untuk mendaki, tak lupa doa kami panjatkan untuk mengiringi keselamatan dan kelancaran kami selama pendakian.

     Pendakian kami dimulai dengan ojek dari basecame sampai pos 1 pertengahan, tibalah saya yang pertama untuk naik ojek belum juga mulai aku sudah di kagetkan oleh abang ojek dengan menstandingkan motornya, lantas ku cepat cepat memeluk abangnya takut terjatuh. Awalnya aman melewati perkampungan dan setelah itu... Oohhhh noooo.... Jalanan tanah licin dan berbatu, menanjak, sempit, berkelok, dilibas dengan grung grung motor bebek dengan kecepatan tinggi.. Gas poolll bangg !!
     Dalam perjalanan abang ojek banyak ajak ngobrol dengan ramah, mungkin agar saya bisa enjoy dan tidak tegang. Ya... Ya... Ya... Terimakasih keramahannya abang ojek.
Bibir boleh saja berkicau ngobrol tapi otak dan jantung saya beda ceritanya, secara tanpa helm (no safety) dengan kondisi jalan seperti itu, bagaimana jika motor oleng dan saya jatuh??? Belum mulai pendakian sudah harus di evakuasi... OMG. Tidakkks... Terlalu nista banget rasanya...

    Saya didera penderitaan yang mendalam, karena motor ojek yang saya tumpangi jadi ngepot ngepot bikin jantung mau copot berasa lama sampainya.
Setelah memacu adrenalin dengan abang ojek, sampailah di pos 1 pertengahan, di pos inilah kami langsung ngoceh ngoceh menceritakan pengalaman masing-masing menggunakan ojek dengan berbagai macam versi cerita, yang intinya bikin jantung salto!!! Kaya film sun gokong..

     Baiklah lupakan masalah ojek mari mulai pendakian.
Saya dan rombongan mulai pendakian sekitar jam 21.00 wib, perjalanan menuju pos 2, perjalanan dari pos 1 pertengahan ke pos 2 di dominasi oleh hutan yang tidak begitu rapat dengan track yang cukup landai bagiku, tapi lain halnya saat perjalanan turun (nanti saya ceritakan). Setelah satu jam berjalan kami pun sampai di pos 2, sekitar 10 menit kami beristirahat di pos 2, selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju pos 3, kali ini jalan yang kami temui adalah jalan yang terus menanjak dengan trek bebatuan disertai pasir dan kerikir kecil. Perjalanan malam hari saat itu membuat kami harus ekstra hati-hati, sebisa mungkin kami jangan terpencar satu sama lain. Kami terus berjalan beriringan dengan komando mas sigit di depan dan aku selalu dibelakang jika ada hewan buas dari belakang bisa bisa saya duluan yang di terkam
     Saat itu suasana begitu hening hanya ada suara langkah kaki kami yang menamani perjalanan malam itu dan cahaya rembulan yang mengiringi kami. Trek yang menanjak di dominasi tanah licin dan banyak bebatuan, masih ada beberapa pohon tumbang menghalangi jalan memaksa kami harus menunduk bahkan berjongkok untuk melewatinya, sekitar setengah perjalanan terdapat tempat lapang, tempat yang menggoda iman saya untuk istirahat walau sebenarnya saya tidak terlalu letih. Namun apalah daya melihat pohon tumbang yang bisa di jadikan tempat duduk rasanya tubuh ini tiba tiba mengandung gaya magnet yang menarikku untuk bersandar.... Nyesss.. Berasa di sofa. Perjalanan yang cukup jauh dari pos 2 ke pos 3.
     Hutan sudah mulai terbuma lebar, selebar hatiku yang dilanda rindu akan pos 3, setelah lama berjalan dikeheningan malam sampailah kita di pos 3, tenda tenda sudah banyak yang berdiri tegak seperti ingin memanggilku untuk masuk kedalamnya. Terlalu banyak yang ngecamp disini kami pun sampai kesulitan mendapat tempat untuk mendirikan tenda kami, akhirnya dipinggiran trek lah yang menjadi pesinggahan tenda kami, tenda sudah siap untuk di singgahi saya langsung masuk kedalam untuk sekedar rebahan dan yang lain masak untuk mengisi kekosongan perut ini, hati nya juga kosong... Uuppzz... 🙊. Setelah makan saya pun tidur entah para wanita perkasa itu mereka tidak tidur kuat sekali mata mereka.

     Dalam nikmatnya tidur saat itu, sekitar puku 3.30 saya dibangunkan oleh suara summit... Summit... Entah itu suara datangnya darimana, tepatnya jam 4.00 kami berangkat menuju puncak.
Kata mas sigit dari pos 3 ke puncak hanya memakan waktu 40 menit saja, alhasil kita hanya membawa perbekalan dan minum secukupnya. Dari camp jalan langsung menanjak berbatu tiada henti perjalanan begitu melelahkan. Ternyata menuju puncak sangat teramat mem PHP kan para pendaki, karena berkali kali terlihat ujung gunung bagian atas seperti puncak namun bukan puncak. Boro boro mau sampai puncak pos 4 pun tak sampai sampai, hikkss... Dilan tuh gak bisa diginiin..!! Haha...
     Pelipur lara satu satu nya adalah melihat betapa indahnya pemandangan ketika saya membalikkan badan hanya satu kata: amazing...!!
Gununh Sumbing tampak gagah berdiri, dibelakangnya berderet gunung tinggi lainnya.
Sunrise begitu cerah ramah ramah menyapa sama halnya dengan para pendaki yang tak saling mengenal selalu ramah saling menyapa dan memberi semangat satu sama lain ketika bertemu.
    Belum sampai pos 4 kita sudah kehabisan air, alhasil kami berlima meminta persediaan air kependaki lain, ya saat itu saya berlima duluan untuk naik ke atas dan sisanya masih dibawah, maklum sisaan biasanya sisaan itu ya paling akhir.. Hahaha...
Saya, ucy, demi, yola, yunda sangat kesal dengan trek ini karena tak sampai sampai tersirat dipikiran untuk turun kembali tetapi ada kata yang berhembus "puncak harga diri" kata yang keluar dari seorang ucy perempuan tangguh 😄😄
   
     Akhirnya.... Seperti penantian panjang bisa sampai ke pos 4, dua jam mungkin lebih dari camp sudah termasuk istirahat dan foto foto.. Ngomong ngomonh foto teman rombongam ku yang bernama demi, banyak sekali yang meminta foto dengannya saya saja tidak ada foto dengannya.. 😉😉 . tapi saya juga banyak lho yang minta fotoin,, minta fotoin lho ya bukan minta foto... 😅😅 .
    Di pos 4 ini ditandai adanya batu besar dan plang
Pemandangan semakin indah dari pos 4. Dari sinilah hatus siap siap kembali tenaga karena setelah ini akan dimulailah tanjakan penyesalan, tanjakan yang menyesakkan iman di dada, yang meluluhlantahkan perasaanku yang lemah lunglai bagai terombang ambing akan ketidak pastian.. 😁😁 .
     Ada apa dengan tanjakan setelah pos 4 ini??? Disinilah peng PHP an belum juga selesai. Tanjakan demi tanjakan berbatu membuat lemas, beberapa kali terlihat ujungnya seperti puncak ternyata joung....
Bodohnya lagi padahal saya sudah tau otu bukan puncak tapi selalu berharap itu adalah puncak!! Boleh dong menghibur diri sendiri... Hiks... Hikkss... Dilan kesal diginiin terus. Yang saya lihat peta ada hamparan padamg edelwis dan pepohonan apa gitu namanya hamtaro atau apa gitu deh ah.. Tapi yang ku lihat hanya batang batang pohon kering berdiri, mungkin itu pohonnya yang sudah kering..

    Saya baru benar benar bahagia ketika melihat hamparan tanah menanjak pilu dihiasi batu-batu kerikil dan batu batu besar begitu pula bau belerang yang membuat tenggorokan gatal, seketika itu kupercepat langkahku karena ingin cepat sampai dipuncaknya..... Horrereeeee... Yang dinujung itu ternyata benar benar puncaknya 👏👏👏👏  cemunguuttt eeaaa...
Hey puncak PHP!!! Lu Gue End!!
Kalau orang sudah ta maki maki kau diatas karena mem PHP kan diriku

     Alhamdulillah jam 9.00 saya sampai dipuncak ditemani dua wanita yang mengikutiku yola dan yunda. (Senangnya dalam hati kalau beristri 2..) hahaaha...
Subhanallah luat biasa saya takjub melihat asap dari kawah selalu mengepul keatas, bunyi dari kawah menderu-deru tiada henti. Namun sesak belerang kembali menusuk dan mata pun perih.
Benar benar nikmat berada diatas puncak, cuaca cerah sangat bersahabat udara tidak terlalu dingin dan tidak ada sengatan panas matahari, pas dan cuucookk buangett!!! (Beginilah bayaran untuk orang tabah, selalu indah pada waktunya.. Ajib..). Perlahan yang lain menyusul sampai diatas.



Minggu, 30 Agustus 2015

Lomba Penelitian


Lomba Penelitian

Menurut beberapa orang itu sulit, tapi ku coba tuk jalani itu 
banyak hal yang bisa ku pelajari,
perjuanganku berhenti sampai di semifinal 
kesedihanku dalam dalam kekalahan itu terkalahkan oleh gelembung-gelembung
cinta yang telah mencapai titik didihnya saat dipanaskan.. 
Hatiku yang kala itu galau akan dan kecewa terhadap seseorang hilang dengan 
cepatnya begitu saja.
Kau masuk kehati ini secepat kilatan cahaya elektron yang tereksitasi dari atom,
Kau menyusun partikel-partikel hati dengan indah yang saat itu hancur 
terkena dahsyatnya bom nuklir..
Eko Lyan Saputro...
Nama itulah yang berhasil masuk ke sistem spektro hatiku dan 
memberikan cahaya sinar UV pada larutan hati ini.
Sebuah nama yang indah bagaikan berkilaunya unsur emas,
sikapmu yang begitu baik dan perhatian.
kamu memang calon imamku yang mulia bagai gas mulia di alam..
Sungguh aku bagai spin yang beruntung bisa bersama-sama 
denganmu dalam satu orbital cinta... 



  Karya ;
 Alifah Latih Kusuma

 

Lipsting gokil...

Rabu, 12 Agustus 2015

Janji khiasan

Mana Janjimu.... Janji yang telah kau  buat sendiri, Tapi kini kau lah yg melanggar itu..  Tak pernah ada kata yg benar benar kau ucap itu terbukti.. Seolah olah kata itu hanya kiasan semata,,   sedangkan bila ku yg melanggar kau begitu marah dengan hebatnya..   Siapa yg tak menepati janji kini terlihat....  

Rabu, 29 Juli 2015

Diam Tanpa Jawab

inilah kebingungan ketika diri tak mampu mengungkapkan kata-kata
ketika mulut bungkam dan hati tak mampu juga bicara
semua seakan tak berarti dan tak berdaya
apalah arti ketika tidak mampu mengucap apapun
apalah makna ketika semua diam tak ada jawaban
entah apa yang nanti mencerahkan kembali
sepucuk daun
setangkai bunga
sebercik air
atau bahkan sebercak kotoran
semua akan mungkin terjadi
tetapi berusaha untuk menghindari kegagalan adalah lebih baik
daripada terus diam dan diam tanpa kata dalam kebisuan belaka
oh mengapa dan mengapa
kebingungan dan ketidakpahaman ini harus melanda
tanpa ada komunikasi yang akan menjawabnya
cukuplah
jangan teruskan
cukup sampai di sini
tunggu nanti saja jawabnya.