KISAH KAKEK PENJUAL TALI SEPATU
Kisah Inspiratif tentang kakek penjual tali sepatu yang tidak
mengeluh akan sulitnya menjalani hidup ini adalah sebuah tulisan dari
note fesbuk yang direpost di kaskus. Penulis aslinya adalah seorang
mahasiswa Unpad bernama Andre Daryanto. Marik kita simak pengalaman
spiritual Andre bertemu dengan Kakek Penjual Tali Sepatu.
Kisah Kakek Penjual Tali Sepatu, setiap pagi
saya melangkahkan kaki dengan pasti menuju kampus yang terletak tidak
begitu jauh dari rumah kontrakan saya , pagi penuh semangat membara
seorang pejuang kecil yang bercita cita ingin mengubah dunia, ya impian
kecil yang tidak mustahil kan sobat ?
Satu setengah tahun, sudah saya lalui setiap hari menelusuri jalan
yang sama menuju kampus, setiap pagi, wajah wajah mahasiswa penuh ambisi
lalu lalang seakan melangkah tanpa beban, pun tanpa melengok ke
lingkungan sekitar, ya mungkin ada satu atau dua orang yang menyadari ,
bahwa di sepanjang jalan yang dilalui, begitu banyak pemandangan yang
menyayat hati, ya, menyayat hati bagi yang masih punya hati, ibu ibu
duduk lesu menggendong anak yang haus akan susu, bapak bapak tua, lumpuh
tanpa bisa mengeluh , kakek kakek yang bergolek di tengah teriknya
matahari di jatinangor ini ,tapi itu seakan sudah menjadi pemandangan
yang lumrah , “lumrah ? ”
Saya mulai ragu akan eksistensi teman teman saya yang bernama
mahasiswa, yang dengan bangga mereka menyebut diri masing masing sebagai
agen perubahan, namun menanggapi hal yang setiap hari mereka , anda,
bahkan saya lihat, malah di sebut pemandangan yang lumrah, miris memang,
tapi inilah dunia KEJAM.
Satu sosok yang amat saya soroti, setiap pagi, setiap hari, seakan
tak pernah bosan, duduk seorang pria tua, yang umurnya sudah lebih dari
separuh baya, duduk termenung melamun memandangi daganganya yang tak
laku laku, bapak itu setiap hari menjajalkan tali sepatu, dan sekali
sekali menjual koran koran di pagi hari. Sungguh pemandangan yang
menyayat hati. Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak
laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli tali
sepatunya itu? teman teman mahasiswa hanya lewat tak memperhatikan,
bahkan hanya sekedar menawar barang dagangan si kakek tua, masyaallah,
Lalu lalang orang yang bergegas menuju kampus seolah tidak mempedulikan
kehadiran kakektua itu.
Kemarin setelah pulang dari kampus, saya melihat kakek tua itu sedang
duduk termenung menatapi daganganya, saya sudah berniat akan membeli
tali sepatu itu walaupun saya tidak begitu membutuhkanya, saya
menghampiri kakek tadi, menanyakan berapa harga tali sepatu yang beliau
tawarkan “lima ribu cep” mau beli yang warna apa ? oh syukurlah ternyata
masih ada yang mau beli dagangan bapak ” sahutnya penuh lirih, oh
tuhan, harga sepasang tali sepatu beliau jual hanya dengan harga 5 ribu,
mengambil untung hanya seribu rupiah dari orang yang menjual kepada
beliau, sontak darah saya berdesir cepat, seakan butiran airmata tak
tahan ingin menghujat keluar, betapa tidak, seribu rupiah, itu hanya
bisa membeli sebuah “gehu” pedas yang di jajalkan di pinggir pinggir
jalan, dengan sekuat hati saya tahan perasaan iba,” saya beli 2 pasang
ya kek ”
Kakek tersebut terlihat sangat senang, karena akhirnya, setelah dari
subuh menjajalkan daganganya, baru pada pukul 2 siang saya orang pertama
membeli dagangan beliau, saya mengeluarkan uang 20 ribu, beliau
berkata,” ga ada kembalianya kakek mah nak”, jawab kakek. “oh ga apa apa
kek, ambil saja kembalianya, dari saya” Lalu saya bertanya kembali,
mengapa beliau dengan usia yang sudah lanjut, dan seharusnya sudah duduk
diam di rumah menikmati sisa sisa umur beliau, malah masih bekerja
keras membanting tulang, dari pagi hingga petang, menjajalkan koran dan
tali sepatu di lingkungan unpad tersebut? tanya saya kepada beliau,
dengan suara yang tertatih tatih beliau menjawab” yah, mau gimana lagi
nak, inilah dunia, mungkin allah belum meridoi saya kalau saya masih
malas malasan, saya punya anak di rumah di garut 12 orang, 5 orang sudah
berkeluarga dan pergi jauh meninggalkan kehidupan mereka yang serba
berkekurangan, masih ada 7 orang lagi anak saya yang masih duduk di
bangku sma dan smp, ga mungkin saya hanya duduk diam, sementara kaki
saya masih kuat berjalan.”
Mendengar hal itu, sontak saya menahan pekik yang begitu menyerang ke hati yang paling dalam, saya tak kuasa melihat kepedihan dan ketegaran seorang kakek yang dimasa tuanya masih berjuang demi menghidupi keluarganya .. “Lalu , disini kakek tinggal dimana? dan pulang berapa minggu sekali ke garut kek?” tanyaku lirih, “Kakek tinggal di musholla di sebelah sekre mahasiswa, kakek numpang tinggal disana, sekaligus membantu membersihkanya, karena ga ada yang ngerawatnya, oleh UNPAD kakek g di terima menjadi karyawannya, karena umur kakek udah terlalu tua, padahal kakek berharap sekali dapet uang dari menjadi karyawan untuk membersihkan musholla ini” imbuhnya, ” kakek biasanya pulang ga menentu waktunya, asalkan kakek udah bisa membeli beras 20 kg, baru kakek pulang, itu biasanya sekitar 2 minggu mengumpulkan uang untuk membeli beras itu buat di bawa pulang ke garut” katanya
Mendengar hal itu, sontak saya menahan pekik yang begitu menyerang ke hati yang paling dalam, saya tak kuasa melihat kepedihan dan ketegaran seorang kakek yang dimasa tuanya masih berjuang demi menghidupi keluarganya .. “Lalu , disini kakek tinggal dimana? dan pulang berapa minggu sekali ke garut kek?” tanyaku lirih, “Kakek tinggal di musholla di sebelah sekre mahasiswa, kakek numpang tinggal disana, sekaligus membantu membersihkanya, karena ga ada yang ngerawatnya, oleh UNPAD kakek g di terima menjadi karyawannya, karena umur kakek udah terlalu tua, padahal kakek berharap sekali dapet uang dari menjadi karyawan untuk membersihkan musholla ini” imbuhnya, ” kakek biasanya pulang ga menentu waktunya, asalkan kakek udah bisa membeli beras 20 kg, baru kakek pulang, itu biasanya sekitar 2 minggu mengumpulkan uang untuk membeli beras itu buat di bawa pulang ke garut” katanya
Allahuakbar ,, demi keluarga tercinta, beliau rela tidur di musholla
yang dingin sendiri, ditemani kesepian yang teramat mendalam , dan
kerinduan akan menghabiskan hidup tenang, demi mencari sesuap nasi,
membela harga diri, untuk tidak menjadi pengemis yang tanpa ada usaha
sedikitpun, sungguh beliau begitu mulia, dan semoga Allah selalu bersama
orang yang berhati seperti seorang malaikat yang sengaja di utus tuhan
kebumi agar manusia dapat belajar, menghilangkan ketamakan dan bermalas
malasan.
Untuk teman teman ku, yang mengatas namakan diri mereka mahasiswa,
terutama anda yang berkuliah di kampus unpad jatinangor ini, saya harap,
ini hanya salah satu bentuk saya saling berbagi, saling mengingetkan,
bahwa di luar sana, masih banyak saudara saudara kita yang membutuhkan
perhatian, jadilah mahasiswa seutuhnya, karena saya sendiri tidak mampu
berbuat banyak, saya butuh kalian, kalian yang berjiwa besar, yang mau
sedikit meluangkan waktunya memperhatikan orang orang di sekitar,
“Duhai Allah, berkahi rejeki kakek ini. Sehatkan jiwa dan raganya
agar ia senantiasa mamapu memenuhi kewajibannya dalam ibadah dan mencari
nafkah. Ridhai segala peluhnya agar menjadi saksi dari tanggung
jawabnya dalam mengayuh beban di dunia. Dan jangan biarkan ia putus asa
dari rahmat-Mu karena fitnah dunia yang merajamnya. Dan berkahi hidup
saudara-saudara muslim kami, dimana pun mereka berada. Aamiin yaa
robbal’alamin.”
#satu
nasehat dari seseorang : “jika kamu melihat seorang yang sudah sepuh
dan berjualan dipinggir jalan, belilah dagangannya meski kamu sebenarnya
tak membutuhkan. Karena sesungguhnya beliau menghindarkan diri dari
meminta-minta”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar