:: Adillah Saat Menawar ::
Seorang nenek duduk di pelataran parkir. Di sampingnya terpajang
aneka keripik dengan kemasan sederhana. Nampak tidak menarik, apalagi
saat sibuknya lalu lalang orang yang keluar masuk gedung mall.
Senyumnya ramah menyapa setiap orang yang melaluinya, ia tak bosan menyapa satu demi satu, berharap dagangannya dibeli. Kebanyakan bahkan tak sempat menjawab tawaran sang nenek.
Ada juga yang menolak dengan halus.
Dan sebagian kecil membelinya.
Satu bungkus 10rb, tak seberapa mahal untuk satu kemasan keripik pisang dagangannya. Tapi lihatlah, wajahnya begitu bahagia saat seseorang membelinya..
Senyumnya ramah menyapa setiap orang yang melaluinya, ia tak bosan menyapa satu demi satu, berharap dagangannya dibeli. Kebanyakan bahkan tak sempat menjawab tawaran sang nenek.
Ada juga yang menolak dengan halus.
Dan sebagian kecil membelinya.
Satu bungkus 10rb, tak seberapa mahal untuk satu kemasan keripik pisang dagangannya. Tapi lihatlah, wajahnya begitu bahagia saat seseorang membelinya..
Seorang kakek setiap hari berjalan kaki berkeliling kompleks, ia
membawa sapu lidi hasil buatannya sendiri. Seorang ibu menawar sapu lidi
buatan sang kakek, harga yang ditawarkan sudah murah, hanya 10rb.Tapi
ibu itu menawar agar sapunya 5rb saja. Diakhir transaksi, kakek melepas
sapunya seharga 8rb. Si ibu puas karena mendapat diskon 2rb.. Dan hari
itu, kakek pulang dengan uang hanya 8rb saja. Uang makannya hari itu,
yang harus ia bagi lagi bersama istri dan cucunya. Ia tak berhasil
menjual banyak, hanya satu sapu saja..
Di sebuah restoran, satu keluarga menikmati makanan dengan lahapnya..
Bisa menghabiskan beberapa ratus ribu untuk makan disana. Tak lupa seusai membayar nota/struk rincian pembelian, ayah meninggalkan satu lembar uang 20rb sebagai tip.
Bisa menghabiskan beberapa ratus ribu untuk makan disana. Tak lupa seusai membayar nota/struk rincian pembelian, ayah meninggalkan satu lembar uang 20rb sebagai tip.
Di rumah, seorang ibu mengumpulkan barang bekas karena nanti bisa
dijual ke tukang rongsokan yang lewat. Lumayan, terkadang dengan tawar
menawar yang sengit, akhirnya si ibu mendapat uang 10-20rb.Terkadang si
ibu dan si abang masih bergerutu karena harga yang tidak terlalu cocok.
Bayangkan, jika nenek penjual keripik tadi, kita beli saja meski tak
butuh….10rb baginya, bukan hasil meminta, tapi perjuangan kerasnya
melangkah puluhan kilometer dari rumahnya mengais rezeki halal.
Jika seandainya kakek penjual sapu, dibayar 20rb meski harga sapu 10rb.
Ketimbang menawarnya, ia tentu pulang dengan langkah yang bahagia, bisa membawakan makanan yang sedikit lebih baik dari biasanya untuk istri dan cucunya..
Ketimbang menawarnya, ia tentu pulang dengan langkah yang bahagia, bisa membawakan makanan yang sedikit lebih baik dari biasanya untuk istri dan cucunya..
Lalu seandainya ibu yang mengumpulkan barang bekas memberikan saja
dengan sukarela. Tokh ia tidak lagi membutuhkan barang itu. Apa yang
terjadi?
Doa mengalir dari abang tukang rongsok. Bisa jadi istrinya sedang sakit, atau anaknya butuh biaya sekolah.
Membeli yang tidak kita butuhkan, melebihkan dari harga yang
ditawarkan, atau memberikan sesuatu kepada mereka di tengah kerasnya
perjuangan hidup mereka yang bertahan untuk tidak meminta-minta. Kitalah
yang lebih berbahagia akhirnya, karena mereka begitu saja mendoakan
kita dengan tulus.
Mengapa kita membeli mahal tanpa menawar di tempat yang berkelas,
lalu menawar sebisa mungkin saat belanja di pinggir jalan. Mengapa 20rb
terasa mahal, saat nenek menawarkan sebungkus keripik dagangannya,
dibanding kita yang mudah saja meninggalkan 20rb sebagai uang tip usai
makan di restoran.
Dalam jual beli diperbolehkan tawar menawar. Namun, berbuat adillah
dalam menawar. Berbuat adillah dalam membeli dan menjual, mudahkanlah.
Begitu juga dalam berhutang dan meminjamkan uang. Karena memang demikian
Allah dan rosul-Nya memerintahkan kita. Semoga dengan demikian barokah
tercurah dari segala penjuru.

